Live Radio Streaming
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Brebes – Topmania, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat
Brebes Kamis (31/01) menggelar olimpiade sejarah Indonesia untuk siswa –
siswi SMA/ MA/ SMK se-eks karesidenan Pekalongan Barat. Kegiatan yang
dihadiri dan dibuka langsung oleh Wakil Bupati Brebes Narjo, diikuti 57
siswa dari 20 sekolah.
Bupati Brebes Hj. Idza Priyanti, SE dalam sambutannya yang dibacakan
oleh Wabup menyampaikan pentingnya mengetahui dan mempelajari sejarah,
khususnya bagi generasi muda. Istilah Jas Merah (Jangan sekali-kali
melupakan sejarah) yang sering disampaikan oleh presiden Sukarno adalah
pesan konkret untuk generasi penerus agar selalu ingat pada sejarah.
Melalui sejarah, kita akan mampu memahami dan mengerti betapa sulitnya
perjuangan yang harus dilakukan oleh para pejuang pendahulu untuk
mendirikan negara Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Perjuangan mesti dilalui dengan mengorbankan jiwa raga, tetesan darah
dan air mata.
“ Sejarah adalah refleksi perjuangan bangsa dalam melalui masa-masa
penuh tantangan. Kita harus ingat bahwa negara ini ada, bukan karena
pemberian penjajah, negara ini ada hanya dengan ridho Allah melalui
perjuangan tanpa kenal lelah dari seluruh rakyat Indonesia “ kata
Bupati.
Lebih jauh Bupati menyampaikan dukungan, apresiasi dan penghargaan yang
tinggi pada jajaran pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) atas
terlaksananya kegiatan ini.
“ Yang paling utama saya harapkan dari hasil kegiatan ini adalah bukan
menang atau kalahnya dalam persaingan lomba, namun kesadaran siswa akan
pentingnya pengetahuan sejarah dapat terus meningkat. Kearifan kita
sebagai bangsa tercermin dari sikap kita dalam menghargai jasa dan
perjuangan para pahlawan ” tutup Bupati. (HP/topfm)
topfm951.net Tim Teknis Penyusunan Buku Sejarah Kabupaten Brebes tahun 2011, Kamis (5/1) kemarin mengadakan rapat di Kantor BAPPEDA Brebes. Rapat tersebut bertujuan menyusun ulang Buku Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Brebes.
Ketua Tim, Drs H Soedarmo MBA mengatakan, masih banyak yang harus di perbaiki sebelum naik cetak. Diantaranya mengenai cover bukku, daftar isi, penulisan caption foto yang kuran jelas dan gambar yang kurang. ”Tetapi pada dasarnya, revisi tidak ada yang bersifat prinsip dan tidak mengurangi substansi buku,” kata Soedarmo.
Anggota Tim Penyusun yang lain, Drs Atmo Tan Sidik mengatakan, hal baru dalam buku sejarah tahun 2011, antara lain tentang peristiwa tiga daerah mengenai kedudukan Binadji serta gagasan pemikiran Binadji. Juga ada sejarah penumpasan DI/TII di Kabupaten Brebes. Penyusunan Buku Sejarah Brebes, diharapkan mampu mampu memenuhi keinginan masyarakat untuk memberikan bahan pengetahuan tentang keadaan daerahnya di masa lampau. ”Disamping itu, sejarah mengandung penuh arti bagi mereka yang mau berfikir,” ucapnya.
Buku Sejarah dan Hari Jadi Kabupaten Brebes tahun 2011, rencananya akan diserahkan kepada semua anggota DPRD Kabupaten Brebes dan tokoh masyarakat pada tanggal 18 Januari 2012 saat Rapat Paripurna DPRD dalam rangka Hari Jadi Kab Brebes ke-334.(humas)
Ada beberapa pendapat asal muasal nama Brebes. Yang pertama mencoba menghubungkannya dengan keadaan alamiah daerah Brebes yang pada awal mulanya konon mempunyai banyak air dan sering tergenang air, bahkan ada kemungkinan masih berupa rawa-rawa. Mengingat banyak air yang merembes, Munculah kemudian nama Brebes, yang selanjutnya mengalami "verbastering" (perubahan) menjadi Brebes. Pendapat kedua mencoba menalikannya dengan peri masuknya agama Islam pada awal mulanya ke Brebes, yang sekalipun dihalang-halangi namun ternyata masih juga merembes, yang dalam bahasa daerah disebut disebut "berbes". Oleh karenanya muncullah kemudian nama Berbes, yang selanjutnya berubah menjadi Brebes. Pendapat yang ketiga mencoba menerangkan asal muasal nama Brebes dari kata-kata "bara" dan "basah".
"Bara" berarti hamparan tanah datar yang luas, sedang "basah" berarti banyak mengandung air. Kedua-duanya cocok dengan keadaan daerah Brebes, yang kecuali merupakan air. Kedua-duanya cocok dengan keadaan daerah Brebes yang kacuali merupakan dataran luas, juga mengandung banyak air, karena perkataan "bara" diucapkan "bere", sedang "basah" diucapkan "beseh", pada akhirnya lahirlah perkataan "Bere basah", yang untuk mudahnya kemudian telah berubah menjadi Brebes.
Ada pula terdapat ceritera yang berkaitan denga kata yang akhirnya menjadi kota Brebes yaitu:
Diantaranya Salem-Bantarkawung terdapat gunung bernama "Baribis" dari gunung Baribis tersebut mengalir sungai "Baribis" yang mengalir melalui dataran bagian utara bermuara di laut Jawa dan setelah bergabung dengan aliran sungai-sungai yang alin merupakan sungai besar dipantai utara Jawa. Sungai Baribis ini, pada jaman dulu dianggap sebagai sungai yang bertuah = angker (Jawa) dan konon sungai tersebut juga banyak buayanya. Orang-orang tua pada saat itu banyak yang melarang anak cucunya untuk datang, menyeberangi, mandi dan sebagainya disungai tersebut. Terlebih dalam saat berperang orang tua selalu memberikan peringatan-peringatan yang melarang melangkahi/menyeberangi sungai tersebut. Untuk meyakinkan hal ini, mka terungkaplah sebuah legenda tentang perang Arya Bangah dengan Ciyung Wanara. Akibat menyeberangi sungai Baribis tersebut, Arya Bangah mengalami kekalahan.
Dari kepercayaan akan hal tersebut maka sungai Baribis itu dijadikan peringatan = pepenget = pepeling = pepali = larangan agar jangan sampai pada saat berperang melangkahi = menyeberangi sungai tersebut.
Karena sungai Baribis menjadi larangan dari kaum tua, maka sungai Baribis dikenal sebagai larangan, atau sungai pepali atau pemali, yang berarti pepalan atau larangan.
Jadi dahulu menurut tutur beberapa orang tua di daerah Brebes selatan sungai Pemali itu semula bernama sungai Baribis yang bermata air dari gunung Baribis. Kemungkinan itu sebabnya, daerah ini disebut daerah Baribis, yaitu daerah aliran sungai Baribis dan dari kata Baribis ini menjadi Brebes.
Kalau kita perhatikan dengan seksama, nama-nama tempat si pulau Jawa ternyata merupakancermin dari keadaan alam disekitar masyarakat yang mendiami tempat-tempat itu dan cara berpikir mereka. Nama-nama itu bisa kita bedakan dalam dua golongan besar. Yang pertama, yang secara spontan telah lahir dari masyarakat di kota-kota itu sendiri, sedang yang kedua, yang dengan sengaja telah diberikan atau diperintahkan oleh suatu penguasa untuk dipakai, misalnya nama Surakarta Adiningrat, yang mula-mula telah dipergunakan oleh Sultan Pakubuwana II pada tahun 1745 untuk menyebut nama-nama tempat yang: 1. Berasal dari nama-nama tanaman, 2. Berasal dari nama-nama binatang, 3. Berasal dari nama-nama benda tambang, 4. Berasal dari nama-nama orang, 5. Mengingatkan kita pada suatu keistimewaan topografis.
Nama kota Brebes termasuk dalam katagori yang kelima. Dalam bahasa Jawa perkataan Brebes atau Mrebes berarti "tansah metu banyune" artinya "selalu keluar airnya" dan nama ini telah lahir, mengingat pada awal mula sejarahnya, keadaan lahan di kawasan kota Brebes sekarang ini memang selalu keluar airnya. Adapun kota-kota lain yang juga memiliki nama-nama semacam itu, artinya yang telah lahir berdasarkan keadaan tanahnya pada awal mula sejarahnya, bisa kita sebutkan antara lain nama-nama kota Blora di daerah Jawa Tengah dan Jember di Jawa Timur. Nama Blora telah muncul oleh keadaan tanah di kawasan kota itu pada mula sejarahnya memang masih berupa rawa-rawa, sesuai dengan arti perkataan Blora atau Balora, yang merupakan sebuah perkataan bahasa Jawa kuna yang berarti rawa, sedang nama kota Jember telah lahir, mengingat pada awal mula sejarahnya keadaan tanah di kawasan kota memang benar-benar jember atau njember, sebuah perkataan dalam bahasa Jawa berarti reged ajenes, artinya kotor dan mengandung air.
Dari sumber yang dapat diketemukan, pada tahun 1640 / 1641, nama Brebes itu sudah mulai tercantum di dalam penulisan / laporan / daftar harian yang dibuat oleh VOC. Makin kesini makin banyak uraiannya, meskipun hanya dalam hal sebagai tujuan atau persinggahan pengiriman barang-barang penting dan bahan pokok, misalnya alat-alat untuk kompeni (VOC), bahan pakaian, bahan makanan dan sebagainya.
Nama Brebes itu sendiri pernah ditulis: Barbas, Barbos atau Brebes. Dari nama dan bagaimanapun juga asal muasalnya atau apapun juga makna nama Brebes itu, kiranya bukanlah masalah bagi penduduk Brebes masa kini. Yang penting adalah mengambil hikmah dari dalamnya. Suatu kenyataan Wilayah Kabupaten brebes dianalisa dari segi lahan/tanah, curah hujan serta iklimnya, mempunyai prospek/masa depan yang cerah. Segala faktor penghambatannya Insya Allah akan dapat diatasi oleh generasi penerusnya.(brebeskab.go.id)
LEGENDA HUTAN IGIR BENDERA Ditulis oleh Dishubkominfo
Di Desa Kalinusu, termasuk Kecamatan Bumiayu, ada sebuah hutan yang disebut dengan Hutan Igir Bendera. Tidak jauh dari hutan itu terdapat sebuah dukuh kecil yang hanya berpenduduk dua puluh empat kepala keluarga.
Sebagai sesepuhnya ialah Kebayan Kaki Semprung. Anak-anak disitu semuanya menggembalakan ternak orang tuanya, kerbau atau lembu di sawah ladang yang sudah dipungut hasil tanamannya atau di padang yang banyak rumput hijaunya. Salah seorang diantara mereka ada yang bertabiat agak nakal, dia sering mengganggu maupun mengusik kawan sebayanya.
Pada suatu hari si anak nakal itu merencanakan sesuatu untuk menakut-nakuti teman-temannya. Diam-diam dia pergi menyendiri kemudian memanjat pohon yang sudah tua. Dibeberapa dahannya ditemukan sarang anai-anai ( sumpyuh ). Dipungutnya sumpyuh itu dari dahan pohon sempur yang dipanjatnya dan dibawa turun. Lalu dicarinya ranting-ranting kering yang berserakan di bawah pohon sempur kemudian disusun dan disulutnya sumpyuh tadi dibakarnya, sehingga hangus sama sekali kemudian ditummbuknya di atas permukaan batu yang lebar dan rata, sampai halus seperti debu. Serbuk hitam itu lalu dicoreng-morengkan pada mukanya sendiri, sehingga bagaikan orang hitam, sehingga sulit untuk mengenalinya siapa dia.
Setelah selesai persiapan yang direncanakan lalu keluarlah ia dari dalam hutan sambil berteriak-teriak menantang teman-temannya, Hai anak-anak! Aku adalah syaitan yang menguasai hutan ini. Siapa berani melawan aku, marilah datang kesini, pasti akan kumatikan dan kumakan dagingnya, ayo lekas, majulah.
Anak-anak penggembala itu keheran-heranan semuanya. Mereka dapat mendengarkan suara tantangan dengan jelas, tetapi tidak bisa melihat siapa yang berseru-seru itu. Karenanya larilah mereka tunggang langgang, semuanya pulang ke rumah masing-masing, dan sudah barang tentu sesuatu yang ajaib dan menakutkan itu diceritakan kepada orang tuanya. Seketika itu juga para penghuni dusun keluar ingin menyaksikan apa kiranya yang telah terjadi di hutan itu, namun tiada sesuatu yang aneh. Karena anak yang mengaku sebagai syaitan hutan tadi sebenarnya sudah ikut pulang kerumah bersama-sama teman lainnya tetapi tidak ada seorang anakpun yang mengetahuinya. Setibanya dirunah, anak aneh itu minta makan kepada ibunya, tetapi ibunya sangat heran, karena ia hanya mendengar suara saja, wujud tubuh anaknya tidak bias dilihat, lalu bertanya “ Nak, dimanakah engkau?” si anak menjawab “Aku berdiri dibelakangmu bu”. Ibunya bertambah heran. “ Engkau telah berbuat apa dihutan sana dan mengapa tubuhmu tidak tampak. Tanya ibunya. Si anak mulai memberikan penjelasan tentang apa yang telah dilakukan, katanya “ tadi aku mengoles mukaku dari serbu hitam dari sarang anai-anai yang kubakar sampai hangus. Akibatnya semua teman-teman dan ibu sendiri tidak dapat melihat wujud tubuhku. Aduh, bagaimana bu?
Setelah berpikir sejenak ibunya berkata “ cepatlah pergi ke sumur di belakang dan cucilah mukamu bersih-bersih.
Apa yang diperintahkan oleh ibunya cepat-cepat dan ternyata sesudah bersih mukanya dari orengan hitam tadi, si ibu dapatmelihat tubuh anaknya jelas-jelas. Mengetahui akan kejadian yang ajaib ini mereka berdua ibu beranak pergi ke rumah Kebayan Kaki Semprung untuk melaporkan peristiwa aneh tersebut.
“ Apakah serbuk hitam yang kau ceritakan masih ada sisanya?” Tanya bapak Kebayan. “masih banyak pak”, jawab si anak di atas batu besar di tepi hutan sana.
Mendengar penjelasan itu Kaki Semprung lalu lari cepat-cepat menuju ke hutan di luar dusun. Semua serbuk hitam yang masih tersisa di atas batu di ambilnya dan di bawa pulang. Setibanya di rumah, Kaki Kebayan lalu memukul tabuh bertalu-talu, maka semua penduduk dusun berkumpullah di depan rumah Kaki Kebayan.
Saudara-saudaraku sekalian,”Kebayan mulai berpidato, “ serbuk hitam inilah yamg menjadi penyebab anak ini tidak nampak tubuhnya. Kalu serbuk ini ku taburkan di sekitar dusun kita, maka dusun kita bersama kita semua tidak akan nampak di mata orang. Dengan demikian kita akan menjadi orang bebas merdeka, tidak diperintah oleh orang lain.
Bagaimana? Setuju hal ini kulakukan?” Tanya Kebayan. “ Setuju! Setuju! Setuju!” jawab penduduk semua
Memang betul seperti yang diperkirakan,
dukuh dengan seluruh penduduknya
tidak lagi kelihatan lagi di mata yang lalu lalang di situ.
Dengan persetujuan itu, Kaki Kebayan Semprung menaburkan serbukl hitan tersebut disekitar dusunnya. Memang betul seperti yang diperkirakan, dukuh dengan seluruh penduduknya tidak kelihatan lagi di mata yang lalu lalang di situ. Kaki Kebayan Semprung sendiri berubah menjadi seekor harimau besar.
Dusun yang musnah itu akhirnya disebut Hutan Igir Bendera.
(disadur ulang dari Buku Legenda dan Kumpulan Ceritera Rakyat Kabupaten Brebes).





