RADIO SINGOSARI TOPFM || 95.1 MHz ||MORE THAN JUST RADIO ||INSPIRING RADIO ||

Live Radio Streaming


KLIN MORE PLAYER
Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan
topfm951.net BREBES - Beras hitam, bagi sebagian masyarakat Indonesia belum banyak yang mengenal. Padahal, beras hitam selain pulen, enak, juga mengandung nilai gizi yang tinggi dan bisa dijadikan obat. Di Brebes, beras ini bisa di tanam dan didapatkan di dataran tinggi (1000-1500 DPL). Salah satunya di Desa Kaligiri, Kec. Sirampog lebih kurang 40 kilometer dari Kota Brebes.

Bagi warga Desa Kaligiri, Beras Hitam tidak asing lagi karena sejak bertahun-tahun yang silam beras ini sudah ditanam dan dikonsumsi warga setempat. Namun tidak ditanam secara besar-besaran karena tidak laku dipasaran umum dan belum diketahui manfaatnya. Beras hitam saat itu hanya dijadikan campuran jagung bagi masyarakat yang mengkonsumsi jagung, karena bisa menambah rasa dan aroma.

”Kalau paceklik, orang-orang pada makan jagung, nah beras hitam inilah campurannya, jadi enak, lezat dan nikmat,” terang petani asal Desa Kaligiri Slamet Yuwono (50) saat ditemui penulis di rumahnya, samping balai desa Kaligiri.

Slamet sendiri tidak tahu manfaat dari keunggulan beras hitam. Dia merasa tertantang untuk menanam dan mengembangkan beras hitam setelah mendapatkan penyuluhan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dari Dinas Pertanian Kab Brebes. Karena disitu dia mendapatkan ilmu, manfaat, kandungan gizi dan prospek pasar beras hitam. ”Sejak tiga tahun yang lalu, saya nanam terus beras hitam,” kenang suami dari Suparti. Kata Slamet, Warga Sirampog banyak yang tidak berminat menanam beras hitam karena masa panennya lama, meskipun cara penanaman dan ongkos produksinya sama. ”Kalau beras putih hanya berumur 100 hari, beras hitam sampai 5 bulan, baru bisa dipanen,” kata Slamet.

Awalnya, ayah dari Panji Yuliansah (11) itu hanya menanam 1000 meter, meskipun sawahnya luas. Sekarang Slamet menanam beras hitam di lahan seluas 0,7 hektar. Untuk pemasaran, kebetulan dirinya punya teman-teman diluar kota yang mengetahui manfaat beras hitam, maka yang menjual temannya itu. ”Teman saya yang ada di Purwokerto, Guci Tegal, Yogya dan Bogor ikut menjualnya dengan menamakan obat beras hitam,” tuturnya.

Sehingga, lanjutnya, membuat harga beras hitam itu mahal. ”Saya menjual 15 ribu rupiah perkilogram, tapi bisa laku 40 sampai 50 ribu rupiah setelah dijual dikota,” ungkap Slamet yang juga Ketua Unit Pengelola Farmer Manage Activity (UP FMA) atau kegiatan penyuluhan yang dikelola petani sendiri. Untuk memudahkan pengiriman, Slamet menjualnya dengan kemasan 1 kilogram dengan bungkus plastik. Setiap sebulan sekali mengirim lewat jasa paket kepada teman-temannya diluar kota. ”Sebulan sekali saya bisa mengirim 1 ton kepada teman-teman saya di berbagai daerah,” ujarnya.

Kata Slamet, dengan dibungkus per 1 kilogram tidak mengesankan sebagai beras konsumsi tetapi benar-benar untuk obat. Cara menanaknyapun tidak seluruhnya dengan beras hitam. Tetapi hanya dicampurkan saja. Dengan perbandingan, setiap 1 kilogram beras putih hanya dicampurkan 1 ons beras hitam atau 1:10 bisa juga 1: 8. Slamet mendapat kunjungan istimewa dari Asisten II setda Brebes Ir Moh Iqbal MM dirumahnya Rabu (22/2). Iqbal menyarankan agar Slamet tidak jemu-jemu mau mengajak teman-temannya menanam beras hitam. Dan untuk pengemasan, sebanyaknya yang kedap udara dan penampilan yang menarik, sehingga bisa menambah nilai jual. Sekretaris Badan Pelaksana Penyuluhan (Bapelluh) Kab Brebes Ir Hartono menjelaskan, beras hitam mengandung kasiat untuk mencegah gangguan fungsi ginjal, memperbaiki kerusakan pada hati, membersihkan kolesterol dalam darah dan meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit.

Potensi beras hitam di Sirampog, kata Hartono, sedang dikembangkan di wilayah Sirampog. Semula hanya di desa Kaligiri kini merambah ke desa-desa di sekitarnya. Tercatat, tanaman padi beras hitam di Desa Kaligiri seluas 4,5 hektar, Manggis 3 ha, Sridadi 3 ha, Mendala 3 ha, Mlayang 2 ha dan Benda 1 ha. ”Mudah-mudahan dengan makin luasnya penanaman, bisa mencukupi permintaan konsumen yang makin tinggi juga,” pungkas Hartono.(*)
topfm951.net Batik Salem, hingga kini masih digandrungi warga Brebes dan sekitarnya. Terbukti, dari hasil penjualan batik yang dijajakan secara keliling oleh Eko Sudarto dari kantor ke kantor, selalu ludes diborong pembeli.

”Saya, mah biasa bawa 30 sampe 40 potong habis,” ujar Eko Sudarto dengan logat Salem ketika menjajakan dagangannya di Bagian Humas dan Protokol Setda Brebes.

Eko menuturkan, dirinya berangkat dari Salem dengan menggunakan angkutan umum. Tidak hanya ke Brebes, tetapi juga berkeliling ke Tegal, Slawi dan Pemalang. ”Alhamdulillah, laris Mas,” tuturnya.

Sekali berangkat, dia membawa 30 sampai 50 potong. Kain batik yang dijajakan merupakan hasil kreasi dari Ibu Mertuanya, Rusmini. ”Sebelum batik salem terkenal, sulit menjualnya, tetapi sekarang malah di buru rame-rame,” ceritanya, sambil mukanya melihat langit-langit, mengenang masa lalunya.

Kadang-kadang, Eko juga membawa batik dari tetangga-tetangganya bila stok dari Mertuanya habis. Dirinya tidak khawatir kehabisan stok, karena di desanya, Bentarsari-Salem terdapat sekitar 140 hingga 200 perajin batik yang mayoritas para ibu rumah tangga.

Dia tanpa segan menceritakan nilai filosofi dari motif batik yang dijajakannya. Saat itu, ada 4 motif yang dibawanya yakni motif kembang kantil, galaran kembang kangkung, wijaya kusuma dan gagak setra. ”Sebenarnya, ada 23 motif batik Salem tapi ’kita’ mah bawa 4 macam,” ucapnya.

Menurutnya, masyarakat Salem telah gigih dan tidak minder menciptakan motif-motif yang variatif dan bernuansa lokal. Antara lain motif bebek boyong, ceplok daun brambang, ceplok gudang brambang, endog siga ceplok brambang, irisan brambang sewu, ceplok brebes, sekar jagad brebes, bebek sajodo, ceplok manggaran bebek sapangon, gudang brambang ukel, brambang sebedheng, parang brambang seling manggaran dan lain-lain.

Eko mematok harga Rp 70 ribu hingga Rp 200 ribu rupiah perpotong. Dari hasil penjualannya berkeliling ke empat Kabupaten, Eko merasa berbangga bisa memenuhi kebutuhan batik. Dan yang lebih membanggakan, dia merasa Batik Salem telah melekat di hati masyarakat. ”Kapan lagi kita memakai baju hasil kreasi sendiri, kalau tidak sekarang?” kata Eko sembari promosi.(humas)
topfm951.net BUMIAYU - Belum lama ini beberapa perwakilan perajin rebana desa kaliwadas kecamatan Bumiayu telah dipanggil dan ditunjuk oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten untuk melakukan study banding ke wilayah Bandung. 

Demikian yang disampaikan Ketua TP PKK Kabupaten Brebes Dra Hj Amy Agung Widyantoro MKes saat berada di Bumiayu belum lama ini. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menggalian infomasi maupun pengetahuan seputar teknis pembuatan serta prospek pasar yang ada dari hasil limbah kerajinan rebana desa Kaliwadas. Dan juga sebagai upaya meningkatkan khasanah potensi daerah Kabupaten Brebes. 

"Dari kegiatan industri kerajinan tersebut, secara otomatis menghasilkan limbah. Disitu kita melihat masih banyak peluang bisnis dibalik pemanfaatan limbah kerajinan untuk dijadikan sebuah produk lain, seperti bahan pembuatan souvenir (cindera mata) ataupun yang lain, sehingga limbah yang biasanya dibuang akan dapat memiliki nilai ekonomis," ungkapnya. (D-DJ.12/TOPFM)
PROGRAM ACARA UNGGULAN : 05-06 NGAJI PAGI * 06-07 INFO PAGI*07-09 INDONESIA DANGDUT*09-11 LAGU JAWA* 11-13 KENANGAN*13-15 DANGDUT NGETOP*15-17 TREN MUSIK INDO* 19-21 MUSIK TO ORANG MUDA*21-00 TOPREQUEST

Studio/Office :

Jl. Raya Paguyangan No.12 Paguyangan (Bumiayu) Kab.Brebes 52276

Telp.0289 432995 | SMS Online | WA : 0856 0203 7951 | www.topfm951.net
CP | dispa dj |085326111234
Email: topfm951@yahoo.co.id