Live Radio Streaming
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE MH mendukung keputusan
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, terkait upaya preventif Virus
Corona (Covid 19) yang telah menjadi pandemi global. Keputusannya yaitu
meliburkan sekolah selama dua pekan atau 14 hari.
"Karena keputusan apapun dari Pemerintah Pusat maupun Provinsi, Kita selaku Pemerintah Daerah harus mendukungnya," kata Idza.
Idza
menghimbau kepada masyarakat untuk untuk meningkatkan ketahanan tubuh
dengan pola hidup bersih dan sehat. Di antaranya mengkonsumsi makanan
bergizi, menyebarluaskan gerakan cuci tangan pakai sabun, menggunakan
masker saat sakit, tutup wajah dengan lengan saat batuk atau bersin.
"Selain itu, hendaknya masyarakat mengurangi aktivitas di tempat yang mendatangkan banyak kerumunan.
Tak
lupa, segera periksa jika memiliki gejala demam, batuk, pilek dan sesak
nafas," terang Idza usai memutuskan pengeluaran Surat Edaran (SE)
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Brebes
(Dindikpora) Nomor T/00765/443.26/2020, Sabtu (14/3) kemarin.
SE
tersebut, menindaklanjuti tiga dasar hukum. Pertama SE Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 Tahun 2020 tanggal 9 Maret 2020
tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan. Kedua SE Gubernur
Jateng Nomor 440/0005942 tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Risiko
Penularan Inveksi Corona Virus di Jateng.
Ketiga,
SE Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng Nomor
443.2/03928 tanggal 12 Maret 2020 tentang Peningkatan Kewaspadaan
terhadap Risiko Penularan Invekai Covid-19 pada Satuan Pendidikan
Menengah dan Khusus di Jateng.
Dalam
SE Kepala Dindikpora Kabupaten Brebes tersebut memiliki sembilan point.
Di antaranya, point pertama yakni peserta didik melaksnakan proses
belajar di rumah selama 14 hari. Terhitung sejak, Senin (16/3) sampai
dengan, Minggu (29/3) mendatang.
Meski
demikian, dalam point lainnya, pendidik tetap menyususun materi
pembelajaran sesuai dengan perencanaan dan jadwal pembelajaran serta
memberikan tugas sebagai bahan belajar peserta didik di rumah. Sementara
penyampaian materi pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan
perangkat teknologi maupun media sosial. (ba/wsd/topfm).
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah dr Wahyu Setianingsih MKes menilai, bahwa Buang Air Besar
Sembarangan masih banyak dilakukan masyarakat Brebes. Sehingga untuk bisa Open
Defecation Free (ODF) atau bebas dari BABS tingkat Provinsi Jawa Tengah,
juga harus menunggu Brebes.
Demikian disampaikan dr Wahyu Setianingsih saat
Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) 2021 Bidang Kesehatan, Dinas
Kesehatan Kabupaten Brebes, di Hotel Grand Dian Brebes, Rabu (11/3).
”Jawa Tengah tidak bisa ODF kalau Brebes belum juga
ODF,” ungkap dokter Ningsih.
Untuk itu, dr Ningsih mendesak kepada Pemkab Brebes
agar secepatnya menyelesaikan permasalahan kesehatan berupa BABS. Semua
elemen, harus bersama-sama mendukungnya demi pencapaian ODF lebih cepat.
Meski demikian, kata Ningsih, Pemkab akan lebih cepat
menanganinya karena sudah bertekad dan sudah dideklarasikan bahwa 2020 Brebes
ODF. Selain BABS, Ningsih juga menyoroti masih tingginya Angka Kematian Ibu
(AKI) melahirkan dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang dilahirkan, serta Stunting
di Kabupaten Brebes.
“Dari permasalahan-permasalahan diatas, harus kita
pecahkan bersama termasuk dukungan anggaran yang cukup,” ungkitnya.
Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE MH sebagaimana
disampaikan Wakil Bupati Brebes Narjo SH MH mengakui bahwa permasalahan
kesehatan menjadi fokus utama dalam pembangunan Kabupaten Brebes.
Namun demikian, Musrembang bukan semata agenda rutin
tahunan yang hanya sekadar mengkalkulasikan besar kecilnya anggaran pada 2021.
Sebab, besar kecilnya anggaran, bukan tolok ukur suksesnya perencanaan. Yang
lebih penting adalah, seberapa besar efek, nilai dan manfaat dari kegiatan yang
dilaksanakan.
Musrenbang, kata Narjo, merupakan langkah awal dalam
penyusunan Rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Dalam
pembahasannya, perlu sinkronisasi rencana kerja pemerintah kabupaten Brebes
dengan kebutuhan masyarakat, dalam pencapaian tujuan pembangunan di bidang
kesehatan.
Narjo membeberkan, banyak sekali permasalahan kesehatan
yang dihadapi Kabupaten Brebes, diantaranya masih tingginya AKI dan AKB serta
penularan penyakit seperti TB, DBD dan Cikungunya, sarana dan prasarana
kesehatan yang belum memadai, tenaga kesehatan yang belum mencukupi, kasus gizi
buruk, gizi kurang dan Stunting.
“Untuk itu, perencanaan pembangunan daerah bidang
kesehatan agar difokuskan pada poin poin tersebut di atas,” ajaknya.
Musrenbang Kesehatan diikuti 150 peserta dari jajaran
Dinas Kesehatan dan OPD terkait. Tamapk hadir Wakil Bupati Brebes Narjo SH MH,
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Dr Sartono MM, Kabid Kesmas Dinas
Kesehatan Propinsi Jawa Tengah dr Wahyu Setyaningsih MKes dan tamu undangan
lainya. (ys/wsd/topfm)
Brebes – Sarana Kesehatan merupakan salah satu tolak ukur dari
kesejahteraan masyarakat. Keberadaan PKD (Poliklinik Kesehatan Desa)
menjadi kebutuhan pokok masyarakat di desa untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan dengan cepat, mudah dan terjangkau.
Di wilayah
Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, salah satu desanya
yaitu Kalijurang telah memulai upaya mandiri dalam aspek kesehatan
dengan mulai membangun gedung tersebut.
Secara simbolis, peletakan batu pertama dilakukan oleh Muspika setempat
(9/1), diawali oleh Kepala Desa Kalijurang, H. Edi Riyanto.
Namun sebelumnya dilakukan kegiatan jalan sehat untuk warga setempat, dengan doorprize menarik.
Disampaikan Danramil 09 Tonjong Kodim 0713 Brebes melalui Bati Tuud, Peltu Edy Burhanudin, bahwa lokasi pembangunan berada di sebelah selatan lapangan desa, yaitu Lapangan Pejaten. Letaknya sangat strategis karena di pinggir jalan utama desa.
“Ini jelas akan memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Disamping itu juga memudahkan penanganan medis jika di dekat wilayah Kalijurang terjadi bencana alam,” ucapnya, Jumat pagi (10/1/2020).
Sehari sebelumnya dikatakan Kades bahwa pembangunan gedung bersumber dari Dana Desa (DD) sebesar Rp. 291,7 juta yang dilaksanakan secara swakelola.
"Nantinya dengan adanya gedung PKD ini, permasalahan kesehatan di desa dapat terdeteksi secara dini, sehingga bisa ditangani dengan cepat sesuai kondisi, potensi dan kemampuan yang ada," katanya.
Pelayanan kesehatan di gedung ini nantinya meliputi pelayanan kesehatan dasar, kefarmasian sederhana, penyuluhan dan konseling, penanganan kegawatdaruratan, penanganan penyakit, rujukan, serta pembinaan kader.
Adanya fasilitas ini diharapkannya dapat mendukung program Pemkab dalam upayanya meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) khususnya di bidang kesehatan.
Selain dari pihak Koramil, acara juga dihadiri Camat Tonjong Cecep Suganda, Kapolsek Tonjong yang diwakili Aipda M. Amin, para tokoh masyarakat, dengan disaksikan ratusan orang. (ig/Aan/topfm)
Disampaikan Danramil 09 Tonjong Kodim 0713 Brebes melalui Bati Tuud, Peltu Edy Burhanudin, bahwa lokasi pembangunan berada di sebelah selatan lapangan desa, yaitu Lapangan Pejaten. Letaknya sangat strategis karena di pinggir jalan utama desa.
“Ini jelas akan memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Disamping itu juga memudahkan penanganan medis jika di dekat wilayah Kalijurang terjadi bencana alam,” ucapnya, Jumat pagi (10/1/2020).
Sehari sebelumnya dikatakan Kades bahwa pembangunan gedung bersumber dari Dana Desa (DD) sebesar Rp. 291,7 juta yang dilaksanakan secara swakelola.
"Nantinya dengan adanya gedung PKD ini, permasalahan kesehatan di desa dapat terdeteksi secara dini, sehingga bisa ditangani dengan cepat sesuai kondisi, potensi dan kemampuan yang ada," katanya.
Pelayanan kesehatan di gedung ini nantinya meliputi pelayanan kesehatan dasar, kefarmasian sederhana, penyuluhan dan konseling, penanganan kegawatdaruratan, penanganan penyakit, rujukan, serta pembinaan kader.
Adanya fasilitas ini diharapkannya dapat mendukung program Pemkab dalam upayanya meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) khususnya di bidang kesehatan.
Selain dari pihak Koramil, acara juga dihadiri Camat Tonjong Cecep Suganda, Kapolsek Tonjong yang diwakili Aipda M. Amin, para tokoh masyarakat, dengan disaksikan ratusan orang. (ig/Aan/topfm)
Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE MH memastikan para pasien keracunan
bubur ayam saat penyelenggaraan kegiatan Posyandu, digratiskan biaya
pengobatannya. Hal tersebut disampaikan saat membesuk korban keracunan
bubur ayam di Puskesmas Bantarkawung, Brebes.
“Pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes pun memastikan seluruh korban digratiskan biaya pengobatan,” ujar Idza yang didampingi suami Drs H Warsidin MH, Kepala Dinas Kesehatan (DKK) Brebes dr Sartono, dan Camat Bantarkawung Eko Supriyanto saat mengecek pasien yang masih dirawat di Puskesmas Bantarkawung, Minggu (24/11).
Bupati mendapati, sebagian pasien sudah membaik namun masih juga yang diinfus. Tinggal 9 orang yang masih di rawat di Puskesmas Bantarkawung, dari 22 korban keracunan.
"Alhamdulillah, mereka kondisinya sudah semakin membaik. Baik anak-anak maupun yang dewasa sudah rebahan," kata Idza.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Bupati mengajak para petugas Posyandu terlebih dahulu mengecek makanan yang disajikan disaat pelayanan Posyandu.
"Ini musibah, namun harus menjadi perhatian kita bersama sehingga kedepan perlu ada tes makanan yang akan dikonsumsi,” tandasnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Brebes Brebes Sartono yang turut mendampingi mengatakan, penyebab muntah-muntah warga Desa Bangbayang belum bisa dipastikan. Akan tetapi, kecenderungannya bukan dari bubur ayam.
"Ini logika dasar saja ya, yang mengkonsumsi bubur ada 173, yang muntah ada 22 orang. Tidak sampai 50 persen. Sehingga kecenderungannya ke bungkus makanannya. Tapi penyebab pastinya perlu menunggu hasil laboaratorium medis," jelasnya.
Sartono mencontohkan, ada pasien ibu dan anak yang mengkonsumsi bubur. Si anak yang mengkonsumsi sampai habis, justru tidak muntah-muntah.
"Contohnya itu Si Ibu yang makan sedikit malah muntah. Sedangkan Si Anak yang makan sampai habis tidak muntah sama sekali. Karena bungkusnya kan dari styrofoam," imbuhnya.
Minggu (24/11) sebagaimana biasanya masyarakat desa Bangbayang mengikuti kegiatan Posyandu dan diberi makanan tambahan berupa bubur ayam. Namun tak disangka bubur ayam yang dikomsumsi mengandung racung sehingga 22 warga mengalami muntah-muntah dari 173 yang mengkonsumi bubur ayam tersebut. Mereka dilarikan ke Puskesmas Bantarkawung, yang didominasi dari anak-anak. (spt/wsd/topfm).
“Pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes pun memastikan seluruh korban digratiskan biaya pengobatan,” ujar Idza yang didampingi suami Drs H Warsidin MH, Kepala Dinas Kesehatan (DKK) Brebes dr Sartono, dan Camat Bantarkawung Eko Supriyanto saat mengecek pasien yang masih dirawat di Puskesmas Bantarkawung, Minggu (24/11).
Bupati mendapati, sebagian pasien sudah membaik namun masih juga yang diinfus. Tinggal 9 orang yang masih di rawat di Puskesmas Bantarkawung, dari 22 korban keracunan.
"Alhamdulillah, mereka kondisinya sudah semakin membaik. Baik anak-anak maupun yang dewasa sudah rebahan," kata Idza.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Bupati mengajak para petugas Posyandu terlebih dahulu mengecek makanan yang disajikan disaat pelayanan Posyandu.
"Ini musibah, namun harus menjadi perhatian kita bersama sehingga kedepan perlu ada tes makanan yang akan dikonsumsi,” tandasnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Brebes Brebes Sartono yang turut mendampingi mengatakan, penyebab muntah-muntah warga Desa Bangbayang belum bisa dipastikan. Akan tetapi, kecenderungannya bukan dari bubur ayam.
"Ini logika dasar saja ya, yang mengkonsumsi bubur ada 173, yang muntah ada 22 orang. Tidak sampai 50 persen. Sehingga kecenderungannya ke bungkus makanannya. Tapi penyebab pastinya perlu menunggu hasil laboaratorium medis," jelasnya.
Sartono mencontohkan, ada pasien ibu dan anak yang mengkonsumsi bubur. Si anak yang mengkonsumsi sampai habis, justru tidak muntah-muntah.
"Contohnya itu Si Ibu yang makan sedikit malah muntah. Sedangkan Si Anak yang makan sampai habis tidak muntah sama sekali. Karena bungkusnya kan dari styrofoam," imbuhnya.
Minggu (24/11) sebagaimana biasanya masyarakat desa Bangbayang mengikuti kegiatan Posyandu dan diberi makanan tambahan berupa bubur ayam. Namun tak disangka bubur ayam yang dikomsumsi mengandung racung sehingga 22 warga mengalami muntah-muntah dari 173 yang mengkonsumi bubur ayam tersebut. Mereka dilarikan ke Puskesmas Bantarkawung, yang didominasi dari anak-anak. (spt/wsd/topfm).
Bumiayu Brebes – Topmania, Air Susu Ibu adalah hak bayi yang harus diterima saat dia lahir karena ASI Eksklusif yang di berikan ibunya mengandung nilai protein yang sangat tinggi dan Air Susu Ibu dapat diserap keseluruhan oleh usus bayi berbeda dengan susu formula yang di jual bebas di pasaran.
Dan Air Susu yang pertama keluar saat ibu menyusui adalah Kolostrum dan masih banyak orang yang berpendapat sehingga Air Susu Ibu yang pertama keluar itu di buang.
Sedangkan Kolostrum atau Air Susu ibu yang pertama keluar itu sendiri sangat tinggi protein sebagai pertahanan tubuh si bayi, supaya anak tidak mudah sakit.
Demikian di paparkan Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kab. Brebes dr. Rasipin saat memberikan penjelasan dalam Pemantapan , Pengembangan dan Pelestarian Kelompok Pendukung Ibu ( KP-IBU ) di Aula Kantor Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes Rabu, 12 September 2012
Dalam Kesempatan tersebut para ibu yang sedang menyusui diminta untuk jangan segan-segan untuk memberikan ASI Eksklusif kepada bayi karena manfaat dan membantu pertumbuhan si bayi baik pertumbuhan badan ataupun pertumbuhan otak bayi.
@dj-10/topfm
Voice by @bayu
podPress Popup Player








